Skip to content

HovioneTechnology | Portal Informasi Teknologi Terkini Indonesia

HovioneTechnology menghadirkan informasi terupdate teknologi terbaru AI, Programming, hingga Cyber security. Semua kami sajikan ringkas, informatif, dan sudah terverifikasi.

Menu
  • Cyber Security
  • AI (Artificial Intelligence)
  • Gadget
  • Programming
  • Linux
  • Gaming
  • Cryptocurrency
Menu
Ada Perlukah Kita Kembali ke Bahasa Pemrograman Lama

Ada Pemrograman : Perlukah Kita Kembali ke Bahasa Lama?

Posted on November 19, 2025

HovioneTechnology – Pertama, mari mulai dengan satu pertanyaan sederhana:
haruskah pengembang meninjau kembali bahasa pemrograman lama?

Salah satu contohnya adalah Ada.
Bahasa ini sudah berumur sekitar 45 tahun.
Namun, justru sekarang Ada bisa membantu memecahkan masalah yang sudah lama bikin pusing banyak pengembang.


Table of Contents

Toggle
  • Image Lama Ada: Tua, Militer, dan Rumit
  • Masalah Modern: Keamanan & Bug Klasik
  • Ada Pemrograman : Bahasa yang Memaksa Kita Berpikir Dulu
  • Performa Ada Pemrograman : Tidak Kalah dari C++ dan Rust
  • Design by Contract: Lebih dari Sekadar Unit Test
  • SPARK: Membuktikan Kode Secara Matematis
  • Dunia Sekarang: Software Mengatur Segalanya
  • Ada Pemrograman : Tua, Tapi Sesuai Masalah Masa Kini
    • Bukan Soal Harus Pindah Total ke Ada Pemrograman
  • Sinyal dari TIOBE Index
  • Mungkin Bukan Ketinggalan Zaman, Tapi Terlalu Maju

Image Lama Ada: Tua, Militer, dan Rumit

Bagi banyak pengembang, terutama yang sudah lama di industri sebelum tahun 2000,
Ada sering memunculkan bayangan:

  • sistem militer yang besar dan kaku,

  • program lama yang rumit,

  • dan bahasa yang terasa kuno.

Akibatnya, banyak orang melihat Ada sebagai:

  • bahasa yang jadul,

  • terlalu bertele-tele,

  • dan sulit dipakai.

Selama bertahun-tahun, Ada memang kalah populer.
Bahasa ini tersisih oleh:

  • C++ yang super kuat, dan

  • Java yang membawa konsep “tulis sekali, jalan di mana saja”.

Namun, di sini muncul pertanyaan penting:

  • bagaimana kalau sebenarnya Ada bukan sekadar produk zamannya dulu,

  • melainkan bahasa yang justru terlalu maju untuk masanya?


Masalah Modern: Keamanan & Bug Klasik

Sekarang, mari lihat masalah terbesar kita di dunia software saat ini.

Hampir setiap hari, kita mendengar soal:

  • celah keamanan,

  • serangan siber,

  • dan bug kritis yang bikin sistem tumbang.

Kita juga sering dengar:

  • notifikasi darurat tengah malam,

  • laporan buffer overflow,

  • dan patch mendesak untuk menutup kerentanan.

Karena itu, banyak pengembang sangat tertarik dengan Rust.
Rust terkenal karena:

  • menangani keamanan memori secara langsung,

  • dan mencegah banyak bug di level bahasa.

Namun, sebenarnya Ada sudah mengejar tujuan ini dari awal.


Ada Pemrograman : Bahasa yang Memaksa Kita Berpikir Dulu

Sejak awal, perancang Ada punya satu tujuan utama:
mencegah kesalahan sebelum terjadi.

Ada melakukan ini dengan:

  • sistem tipe statis yang sangat kuat,

  • aturan yang terasa disiplin, bahkan kaku.

Sekilas hal ini terasa mengganggu.
Namun, di sisi lain, disiplin ini justru:

  • memaksa pengembang berpikir sebelum mengetik,

  • membantu mendeteksi kesalahan sedini mungkin,

  • dan secara alami menghilangkan banyak bug umum.

Dengan kata lain, Ada:

  • tidak dibuat untuk menyulitkan,

  • tetapi untuk membantu menghasilkan kode yang lebih rapi dan aman.


Performa Ada Pemrograman : Tidak Kalah dari C++ dan Rust

Berikutnya, mari bahas soal performa.

Kita sering memuji:

  • kecepatan C++,

  • dan efisiensi Rust.

Pujian itu wajar.
Namun, di saat yang sama, Ada diam-diam berada di kelas yang sama.

Selain cepat, Ada punya satu keunggulan lain yang sering terlupakan:
ukuran program akhirnya kecil.

Di zaman cloud dan IoT, hal ini sangat penting.
Mengapa?

  • di cloud, program yang lebih kecil bisa mengurangi biaya,

  • di perangkat kecil (seperti device IoT), memori sering sangat terbatas.

Jadi:

  • program yang lebih kecil dan lebih cepat
    tidak hanya enak secara teknis,
    tetapi juga bisa jadi keuntungan bisnis langsung.


Design by Contract: Lebih dari Sekadar Unit Test

Sekarang, kita masuk ke bagian yang benar-benar menarik.

Di hampir semua bahasa, kita:

  • menulis unit test,

  • menulis integration test,

  • dan berharap semua bug ketemu.

Namun, ada satu masalah besar:
pengujian hanya bisa menunjukkan bahwa bug ADA,
bukan membuktikan bahwa bug TIDAK ADA.

Di sini Ada melangkah lebih jauh.
Bahasa ini mendukung konsep Design by Contract.

Secara sederhana, Design by Contract memungkinkan kita:

  • menulis janji dan syarat langsung di dalam kode.

Seolah-olah kita berkata:

“Fungsi ini hanya akan jalan kalau kamu memberi input seperti ini,
dan saya jamin hasilnya akan seperti ini.”

Jadi, bukan hanya “coba-coba lewat test”,
tetapi memasukkan aturan main yang jelas ke dalam kode itu sendiri.


SPARK: Membuktikan Kode Secara Matematis

Kalau kita naik satu level lagi,
Ada punya ekosistem SPARK.

Dengan SPARK, pengembang bisa:

  • menganalisis kode,

  • dan membuktikan secara matematis bahwa kode itu bekerja sesuai spesifikasi.

Analogi sederhananya:

  • pengujian biasa itu seperti crash test mobil: kita tabrak mobil ke tembok untuk lihat apa yang terjadi,

  • sedangkan pembuktian formal itu seperti menggunakan hukum fisika untuk memastikan mobil tidak mungkin rusak dengan cara tertentu.

Selama bertahun-tahun, pendekatan ini menjadi:

  • senjata rahasia di industri kedirgantaraan,

  • dan dunia medis.

Mengapa?

Karena:

  • kode yang mengendalikan sistem penerbangan pesawat,

  • atau robot bedah,

tidak boleh sekadar “mungkin benar”.
Kode seperti itu harus benar dengan tingkat keyakinan sangat tinggi.


Dunia Sekarang: Software Mengatur Segalanya

Sekarang, mari lihat konteks yang lebih luas.

Saat ini, kita:

  • membangun mobil tanpa pengemudi,

  • membiarkan AI mengelola sistem keuangan,

  • dan mempercayakan kesehatan dan keselamatan ke perangkat lunak.

Di dunia seperti ini, slogan:

“move fast and break things”

tidak lagi keren.
Justru, pola pikir itu bisa menjadi:

  • tidak bertanggung jawab,

  • dan bahkan berbahaya.

Kita butuh perangkat lunak yang:

  • bisa kita percayai,

  • tidak gampang rusak,

  • dan tidak diam-diam menyimpan bom waktu di dalamnya.

Di sinilah prinsip yang ada di Ada terasa sangat relevan.


Ada Pemrograman : Tua, Tapi Sesuai Masalah Masa Kini

Ada sesuatu yang agak ironis di sini.

Banyak masalah yang sekarang:

  • kita coba pecahkan dengan bahasa baru,

  • kita coba atasi dengan tool modern,

sebenarnya adalah masalah yang Ada sudah coba cegah sejak awal.

Ada rasa:

  • puas,

  • sekaligus sedikit kesal,

ketika menyadari bahwa:

dunia kini mati-matian mencari solusi
untuk masalah yang sudah diantisipasi
oleh bahasa berusia 45 tahun.


Bukan Soal Harus Pindah Total ke Ada Pemrograman

Tentu saja, saya tidak mengatakan:

  • “buang semua bahasa lain”,

  • atau “tulis ulang semua sistem ke Ada”.

Itu tidak realistis.

Namun, masalahnya ada di titik buta kolektif kita.
Kita sering:

  • mengabaikan Ada,

  • menertawakan bahasa ini sebagai peninggalan masa lalu.

Padahal, sebaliknya, kita bisa:

  • melihat Ada sebagai bahasa yang kuat, aman, dan efisien,

  • dan bahkan sebagai cetakan (blueprint) untuk masa depan.


Sinyal dari TIOBE Index

Sebagai tambahan, ada satu fakta menarik.

Pada bulan Juli lalu:

  • Ada sempat masuk 10 besar Indeks TIOBE.

Memang, banyak orang memperdebatkan metodologi indeks ini.
Setelah itu, peringkat Ada juga turun lagi.

Namun, tetap saja:

  • fakta bahwa Ada bisa menembus 10 besar,

  • menunjukkan bahwa bahasa ini belum benar-benar “mati”,

  • dan masih punya komunitas yang aktif.


Mungkin Bukan Ketinggalan Zaman, Tapi Terlalu Maju

Pada akhirnya, mungkin kita perlu membalik cara pandang.

Mungkin:

  • Ada bukan bahasa yang ketinggalan zaman,

  • melainkan bahasa yang terlalu maju,

  • sampai dunia butuh hampir setengah abad untuk menyusul cara berpikirnya.

Jadi, mungkin sekarang saat yang tepat untuk bertanya lagi:

“Apakah kita perlu melirik ulang bahasa pemrograman lama seperti Ada,
bukan sebagai museum,
tetapi sebagai inspirasi untuk masa depan?”

©2025 HovioneTechnology | Portal Informasi Teknologi Terkini Indonesia | Design: Newspaperly WordPress Theme